
Mengerjakan sebuah proyek mural selalu membawa cerita dan tantangannya tersendiri. Kali ini, King Mural mendapat kepercayaan untuk mempercantik area bermain yang ramah bagi anak-anak dan orang tua di Malang.
Berbeda dari proyek-proyek indoor yang nyaman, pengerjaan di ruang terbuka publik ini menyisakan banyak kenangan—mulai dari senyum ceria anak-anak yang melihat karakter kesayangan mereka hidup di tembok, hingga pengalaman horor-sedap yang menguji mental saat malam tiba.
Menghidupkan Imajinasi Anak dan Keluarga di Malang
Area bermain anak dan orang tua adalah ruang di mana imajinasi seharusnya dibebaskan tanpa batas. Di tembok ini, kami menuangkan berbagai karakter ikonik yang sudah akrab di hati lintas generasi:

Doraemon dan kawan-kawan yang mengajak terbang menembus awan dan pintu kemana saja.

Winnie the Pooh & Friends dengan nuansa hangat persahabatan di tengah hutan.

Sentuhan mural interaktif dan jenaka bernuansa superhero, seperti Captain America, Spider-Man, hingga The Thing yang dikemas dalam konsep komik 3D yang hidup.
Proyek berukuran lumayan luas ini dikerjakan secara totalitas dengan tangan mandiri, sketsa manual yang matang, serta ketelitian tinggi agar hasilnya benar-benar rapi dan memanjakan mata pengunjung dari berbagai usia.
Tantangan 2 Hari Pengerjaan: Antara Seni dan Uji Nyali di Musim Hujan
Proyek ini diselesaikan dalam waktu 2 hari penuh perjuangan. Cuaca khas Malang yang tidak menentu di musim hujan membuat ritme kerja harus diatur sedemikian rupa agar cat lekas kering dan detail gambar tidak rusak.
Namun, bagian paling “berkesan” justru terjadi ketika malam mulai larut.
Bayangkan situasinya: sendirian di area gazebo bambu yang sunyi, ditemani udara dingin kota Malang yang menusuk tulang, gerimis khas musim hujan yang mulai turun rintik-rintik, diiringi suara dedaunan bambu yang bergesekan tertiup angin malam. Rasanya? Bikin merinding di setiap sudut bulu roma!
Di tengah kesendirian itu, hanya ada kuas, cat, secangkir kopi hitam pahit sebagai teman setia, dan fokus penuh untuk menyelesaikan target hari itu. Sebuah ritme kerja otentik yang sering dihadapi seniman mural di lapangan—jauh dari kata glamor, tapi justru di situlah letak kepuasan seninya.


Tinggalkan Balasan